Selasa, 05 Mei 2009

STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS

tittle

STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS


A. PENDAHULUAN
Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss. Strukturalisme Levi-Strauss merupakan teori baru dalam bidang antropologi. Paradigma ini menekankan pada penggunaan model yang ada dalam Ilmu Bahasa (Linguistik) dalam menelaah fenomena budaya.
Paradigma yang dikembangkan Levi-Strauss sangat membantu para pemerhati budaya. Dengan paradigma ini memungkinkan peneliti antropologi memahami struktur fenomena budaya secara sistematis dan rasional. Karena di dalam strukturalisme akan memudahkan para peneliti mengklasikfikasikan data-data empiris, sehingga fenomena budaya manusia mudah untuk dianalisis. Struturalisme Levi-Struass menjadikan hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, jugstru memiliki peran yang sangat signifikan dalam menemukan gejala sosial budaya.
Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam paradigma Strukturalisme Levi-Strauss. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu, wajar jika untuk mengungkap persolaan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh model bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (via Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa “Sociology would certeainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists..”. Dengan kata lain sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa.
Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan Strukturalisme Levi-Strauss ini.
N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa operasional dasar dari teori struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.
Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang antropologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persolan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah.


B. SEJARAH HIDUP LEVI-STRAUSS
Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss, akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Hal ini penting mengingat perjalanan hidup penggagas teori antropologi struktural ini sangat dinamis. Latar belakang pendidikan, pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam apa yang dicetuskan dalam teori strukturalnya.
Selain itu, yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brazil, Perancis maupun saat ia berada di New York. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat unik itu. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang antropolgi sebelumnya.
Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles, Belgia. Ia adalah keturunan Yahudi. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anttota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish familily). Sedangkan ibunya bernama Emma Levy.
Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum Paris pada tahun 1927. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang antropologi.
Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia.
Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo, Brazil. Di universitas ini ia memiliki sempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil, serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1’Hummed dan musium di kota Sao Paulo ini memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang IndianCaduveo dan Bororo.
Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai kenegara asalnya yakni Prancis. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya.
Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diberi kewajiban militer. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer, yaitu petugas penghubung. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Halangan tidak hanya sempai disitu, ia juga mengalami diskriminasi ras. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Akhirnya Levi-Strauss diselamat oleh program Yayasan Rockefeller yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi.
Di daerah Greenwich Village Levi-Strauss tinggal. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis, seperti Maz Ernst, Franz Boas, Ruth Benedict, A.L. Kroever dan Ralph Linton. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes, yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis.
Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. dengan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Berkat jasanya, ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan, bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut.
Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduki jabatan-jabatan setrategis terutama di bidang pendidikan. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Reseach. Pada tahun 1959 ia menjadi direktu The Ecole Practique des Hautes Etude, yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Sicial Antropology pada College de France. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya; the wenner-Gren Foundation’s Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford, Yale, Harvard dan Columbia university.

C. KONSEP STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
Cakupan ilmu sosial sangat luas. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu, sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tampa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial; seperti ilmu eksata dan pengetahuan alam (exact and natural Sciences). Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian.
Berkenaan dengan hal tersebut, penelitian budaya selama ini telah banyak meniru sistem atau model yang ada dalam ilmu eksata. Penggunaan model yang terdapat dalam paradigma fungsionalisme dan evolusionisme merupakan contoh kongkrit digunakannya model dalam ilmu tersebut. Namun karena paradigma terdahulu dianggap belum mampu menyelesaikan beberapa persoalan budaya, maka penggunaan model bahasa menjadi suatu alternatif yang sangat memungkinkan bagi penelitian kebudayaan.
Penggunaan model dalam penelitian fenomena budaya sangat penting untuk dilakukan. Hal ini akan mempermudah peneliti mendeskripsikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan fenomena budaya yang diteliti. Dalam buku nya berjudul “The Theory of Culture”, David Kaplan dkk menyatakan bahwa model adalah metafora atau analogi (1999: 230). Model inilah yang menjadi ciri dalam paradigma Strukturalisme Levi-Strauss. Dimana model yang digunakan adalah model yang terdapat dalam ilmu bahasa. Lebih lanjut David Kaplan menyatakan bahwa sifat paling bermanfaat dari suatu model adalah kemungkinan heuristiknya bukan presisinya. Suatu model dapat berfungsi sebagai piranti untuk menawarkan cara agar pengetahuan yang diperoleh dibidang tertentu dapat membantu menerangi bidang pengetahuan lain.
Meskipun paradigma Strukturalisme Levi-Strauss dianggap sebagai suatu terobosan yang baik dalam bidang antropologi, penggunaan model yang ada dalam paradigma ini tetaplah memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi. Hal ini disebabkan tidak semua model yang terdapat dalam ilmu bahasa itu dapat diterapkan pada semua persoalan kebudayaan manusia. Untuk itu David Kaplan dkk. menyebutkan beberapa syarat penggunaan model tersebut. Pertama, suatu model selalu merupakan aproksimasi. Maksudnya relasi antara model dengan sebarang fenomen empirik selalu bersifat partial, tidak seutuh-utuhnya. Jadi, dalam hal analogi organisme tadi, suatu sistem budaya mungkin berperilaku seperti suatu sistem organisme tadi, suatu sistem budaya mungkin berperilaku seperti suatu sistem organik dalam beberap hal, tetapi tidak dalam hal-hal lain. Kedua, hubungan antara suatu model dengan fenomen empirik selalu bersifat isomorfis (sama bentuk); dalam arti: hubungan antara keduanya ialah kesamaan struktur dan bukan identitas (David Kaplan, 1999: 231).
Dalam Strukturalisme Levi-Strauss, pemahaman dasarnya adalah bahwa segala fenomena budaya itu memiliki struktur. Dengan struktur ini akan memudahkan peneliti memahami gejala-gejala budaya itu sendiri. Disamping itu karena memang fenomena sosial itu sangat komplek sehingga diperlukan model-model yang dianggap sesuai dengan fenomena budaya yang bersangkutan. Allen Lane (1968; 8) menyatakan sebagai berikut;
On the other hand, studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena; they are therefore difficult to define, and still more difficult to discuss, without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences, where problems are similarly set in formal terms or, rather, where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment.

Pendapat Allen ini menunjukan adanya struktur dalam setiap persoalan. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa:
“Structure” appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so –like “streamlining”- and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. But so can a physiology, any organism, all societies and all cultures, crystals, machines- machines- in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. So what “structure” adds to the meaning of our phrase seems to be nothing, except to provoke a degree of pleasant puzzlement’.

Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya. Yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa, 2006; 60). Model yang dimaksudkan adalah model formal. Model formal adalah seperangkat unsur yng didefinisikan secara cermat-tepat, ditambah dengan aturan logis untuk menggabung-gabungkannya secara terampil (David Kaplan, 1999: 231).
Meskipun bertolak pada linguistik, fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata, tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. Sarah Schmitt (1999) menyatakan, “Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word, but the patterns that the words form.”
Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Seperti kata-kata; “hitam” dan “putih”. Kata “Hitam” sering dikaitkan dengan kegelapan, keburukan, kejahatan, sedangkan “putih” dihubungkan dengan kesucian, kebersihan, ketulusan dan lain-lain. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan.
Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas, dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya, Levi-Strauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos, menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal, dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpang-tindih dengan varian-varian mitos. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij, 1969 via Fokkema, 1978).
Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang antropologi Levi-Strauss, perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris, melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss, 1958; 378). Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial.
Menurut Levi-Strauss (1958), ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial;
1. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja, yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya.
2. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi, di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama, sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model.
3. Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memprakirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya.
4. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga keberfungsiannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi.
Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari ketidakpuasan Levi-Strauss terhadap fenomenologi dan eksistensialisme (Fokkema, 1978). Pasalnya para ahli antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Dalam bukunya yang berjudul Trites Tropique (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan, yaitu sesuatu yang merusak impresi kesadaran individual yang halus, cepat berlalu, dan mudah rusak (Fokkema, 1978).
Bagi Levi-Strauss telaah antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. Levi-Strauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa.
Istilah kekerabatan, seperti halnya fonem, merupakan unsur makna; dan seperti fonem, kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. Kesimpulannya adalah bahwa “meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain, fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss, 1972, via Fokkema, 1978). Oleh karena itu untuk mengetahui makna sesuatau kita dapat menggunakan faktor-faktor lain yang berhubungan. Seperti dicontohkan jika kita mengetahui makna A, B dan C, maka kita dapat memprediksikan D. Demikian juga sebaliknya pemahaman kita akan D, dan C, akan membawa kita sadar akan makna di komponen A dan B. Korelasi atau hubungan itulah yang menyebabkan adanya model-model yang dapat digunakan dalam menemukan suatu makna dibalik sesuatu. Dengan demikian tujuan dari Strukturalisme Levi-Strauss adalah untuk mempermudah penganalisisan data-data empiris melalui hubungan antar unit yang saling berkaitan ( Wikipedia).
Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Pertama, bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
Kedua, menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat, Koentjara Ningrat; 1987).
Ketiga, menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Yang kedua, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri.
Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (Mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa, 2006). Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963), korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka, dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain.
Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik, terutama setelah diakuinya bidang fonologi (Fokkema, 1978). Namun demikian, perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan fonologi dengan apa yang ada dalam antropologi. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata, sederhana, dan bersifat menjelaskan (Levi-Strauss, 1972, via Fokkema, 1978).
Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam antropologi. Antropologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret, analisis antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan, manjauhi yang kongkret, sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asal-usul sistem itu sendiri. Antropologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda, sistem “terminologi” dan sistem “sikap”. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan; ia tidak perlu memperhitungkan segala “sikap” sumber sosial atau sumber psikologis.
Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada.
Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Oleh karena itu Levi-Strauss mengartikan struktur sebagai relations of relations atau system of relation.
Ahimsa (2006; 61) menyebutkan struktur dapat dibedakan menjadi dua. Struktur luar atau struktur lahir (Surface Structure) dan struktur dalam atau deep strucutre. Struktur luar adalah relasi-relasi antar unsur yang dapat kita buat atau bangun berdasarkan atas ciri-ciri luar atau ciri-ciri empiris dari relasi-relasi tersebut. Sedangkan struktur dalam adalah susunan tertentu yang kita bangun berdasar atas ciri-ciri struktur lahir yang sudah kita buat namun tidak selalu nampak.

D. TOKOH LINGUISTIK YANG BERPENGARUH TERHADAP STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
Agar pemahaman mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss lebih baik, perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Diantara mereka yang sangat berpengaruh terhadap pandangan Levi-Strauss adalah; Ferdinan de Saussure, Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. Dari ketiga pemikir linguistik ini, Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. (Levi-Strauss, 1978 via Ahimsa 2006).
Berikut ini penulis sampaikan secara ringkas mengenai konsep bahasa menurut masing-masing ahli bahasa tersebut di atas. Dengan ini juga bisa kita ketahui berbagai sudut pandang yang berbeda dari setiap ahli bahasa yang sangat penting bagi perkembangan antropologi.

a. Ferdinand de Saussure
Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (General theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth, 1995; 56). Sebagai penemu konsep linguistik modern, wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme.
Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa, 2006).
Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Yaitu;
1). signifier dan signified,
2). form (bentuk) dan content (isi),
3). langue (bahasa) dan parole (ujaran, tuturan),
4). sinkronis dan diakronis,
5). sintagmatik dan paradigmatik.

1. Signified (tinanda) dan signifier (penanda);
Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (Linguistic sign), yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata.

Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata, dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya. Dalam kata-kata sebenarnya hanyalah “Shapeless and indistinct mass”, sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan.

Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier, dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified, walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler; 1976, 19 via Ahimsya, 2006 h. 35).

Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (Concept) dan suatu citra suara (Sound image), bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (Signifier), sedang konsepnya adalah tinanda (Signified).

2. Form (wadah) dan content (isi)
Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Dalam konsep ini, isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Meskipun komponen “kuda” hilang seumpamanya. Fungsi “kuda” ini masih bisa digantikan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli “kuda” yang digantikan. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi “kuda”, akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan “kuda” yang hilang itu. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi “kuda”, meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. Dan makna yang terdapat dalam benda yang menggantikan posisi “kuda” itu harus disepakati oleh kita. Dengan demikian pemberian makna atau arti dari suatu fungsi sangat tergantung dari manusianya itu sendiri. Dan hal ini sangat berkait erat dengan latar belakang kebudayaan masing-masing orang.

3. Bahasa (Langue) dan Tuturan (Parole)
Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Konsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Dalam langue terdapat norma-norma, aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa.

Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu, ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa.

4. Sinkronis (Synchronic) dan Diakronis (Diachronic)
De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem, dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler, 1976, via Ahimsa, 2006; 46). Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah.

Namun demikian, de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. Karena tidak semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagai suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai “A system of pure values which are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms” (Ferdinand de Saussure, 1966, via Ahimsa, 2006; 47). Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis.

5. Sintagmatik dan Paradigmatik
Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan.

Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa, 2006; 47). Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Sepeti kata yang terdapat dalam kata “saya”, “memetik” dan “bunga”. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat “saya memetik bunga”. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja, tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Karena seperti kata “memetik” tentu tidak bisa digabungkan dengan kata “mengalir”. Atau gabungan kata “bunga mengalir”. Gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar atau konvensi yang dipahami oleh suatu masyarakat.

b. Roman Jakobson
Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure, ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Koch (1981; via Noth, 1995; 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson;
Pertama, periode formalist, yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat berpengaruh.
Kedua, periode Stucturalist, yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics.
Ketiga, periode Semiotic, antara tahun 1939 sampai 1949. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal, Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York.
Keempat, periode Interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Information and Comunicatioan Theory), matematika dan juga fisika (1982).
Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa, 2006; 52). Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006; 52) berikut ini:
“...His (Jacobson’s) lectures, however, gave me something very different and, need I add, a great deal more than I had bargained for. This was the revelation of structural linguistics, which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940..” (1985:139)

Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna, meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara “kutuk” dan “kuthuk” (basa Jawa). Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. “Kutuk” mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan “kuthuk” adalah anak ayam (Ahimsa; 2006).
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi, dan realsi-relasi ini muncul karena adanya oposisi. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi, yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas.
Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis, unit-unit yang bermakna, dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (Distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciri-ciri suara yang lain.
Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah;
a). Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tanda-tanda kebahasaan satu dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut;
b). Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah, sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain;
c). Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya;
d). Menentukan perbedaan- perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis, yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit, 1977, 11; Ahimsya; h. 55).

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa, 2006).

c. Nikolai Troubetzkoy
Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik, bukan konsep psikologis. Artinya, fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa, dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa, kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. (Ahimsa, 2006)
Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature, ciri-ciri pembeda, yang memiliki fungsi atau operasional dalam suatu bahasa. Dengan kata lain, strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural, karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa, 2006; 59).
Langkah analisis struktural dalam fonologi yang ditawarkan oleh Nikolai Troubetzkoy diantaranya;
1). Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri, tetapi dia harus;
2). Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut, dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Selanjutnya dia perlu;
3). Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis, dan menampilkan struktur dari sistem tersebut.
4). Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti.

E. ASUMSI DASAR STRUKTURALISME LEVI-STAUSS
Dari pemahaman kita di atas, strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (Ilmu Bahasa), berbeda dengan pendekatan yang ada dalam Fungsionalisme, Marxisme dan lain-lain. Ahimsa (2006; 66-71) menyebutkan bahwa Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut;
1. Dalam strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian dan sebagianya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa (Lane; 1970; 13-14 Ahimsya; 66).

2. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. Yaitu kemampuan untuk structuring, untuk menstruktur, menyususun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya.

Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi, akan tetapi perwujudan ini tidak pernah komplit. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (Partial) pada suatu gejala, seperti halnya suatu kalimat dalam Bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur Bahasa Indonesia. (Ahimsa, 2006; 68).

3. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu, yaitu secara sinkronis, dengan istilah-istilah yang lain. Para penganut Strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut.

Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (Regularities) yang tampak, melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain.

4. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam (Deep Structure) dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (Binary opposition).

Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol, fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditangapi dengan cara seperti di atas. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh.

Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan Strukturalisme. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa Strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat.



F. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
Seberapapun sempurnanya suatu teori, pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Paradigma ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis, data etnografi dan interpretasi, serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. Disamping itu, David Kaplan sebenarnya juga memberikan beberapa catatan mengenai model yang digunakan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Berikut ini beberapa catatan yang memperlihatkan kelemahan dari masing-masing pokok persoalan tersebut di atas.

a. Perangkat dan Metode Analisis
Ahimsa (2006; ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga; a). Cara menggunakan konsep-konsep analisis. b). Konsistensi prosedur analisis dan c). Reduksi dalam proses analisis.
Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Karena ketidaktepatan itu, Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa, 2006; 162).
Kedua, Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos, lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menelaah pada tataran sintaksis, tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Di sisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos, isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman, 1967 via Ahimsa, 2006).
Ketiga, Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa, 2006; 164).




b. Interpretasi Data Etnografi
Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Dalam persoalan ini, Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Menurut para antropolog, seperti Alice Kassakoff dan John W. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Ia menyatakan bahwa analisis Levi-Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. (Ahimsa, 2006; 168).
Lain lagi dengan pendapat Alice, Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada, oleh Levi-Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni; L.L. Thomas, JZ. Kronenfeld dan DB. Kronenfeld. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Bahkan analsisnya dianggap mengalami ke-salahrepresentasi-an. (misrepresentasions of story).

c. Hasil Analisis
Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal; a). Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan, b). Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan.
Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh Levi-Strauss ditolak oleh Douglas. Douglas beranggapan bahwa masih ada aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasa-biasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting.
Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi dianggap tidak tepat. Metode ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (Linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos.

“Instead of more and richer depths of understanding, we get a surprise, a totally new theme, and often a paltry one at that”. ( Douglas, 1967 via Ahimsa, 20006; 170).

G. BEBERAPA TANGGAPAN MENGENAI PARADIGMA STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS
Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss, tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi, sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Maka wajar kiranya jika masih banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini.
Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik, ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari Strukturalisme Levi-Strauss ini. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu, makna-makna yang sangat dalam, yang tidak terduga dan menarik, dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa; 2006; 176).
Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss, kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. Ada susunan, struktur dan koherensi logis dalam mitos. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Masuk akal, menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu.

H. PENUTUP
a. Kesimpulan
Uraian di atas menunjukan pada kita bahwa latar belakang pendidikan dan sejarah hidup Levi-Strauss telah memberikan warna pada pemikirannya. Lahirnya konsep Strukturalisme yang dikembangkan sesungguhnya banyak dipengaruhi oleh pengalaman lapangan dan juga dari hubungannya dengan para ahli linguistik yang secara langsung telah mempengaruhi pemikirannya mengenai budaya.
Ada beberapa poin penting dari apa yang sudah kita bahas dalam paparan tulisan ini. Poin pertama adalah pemahaman kita akan pentingnya memahami kebudayaan melalui bahasa. Bahasa bukan sekedar alat komunikasi, tetapi juga sebagai cermin dari masyarakat itu sendiri. dalam bahasa terdapat struktur, dimana struktur itu dapat digunakan sebagai model dalam memahami fenomena budaya. Oleh karena itu, dengan Strukturalisme, data-data empiris megnenai kebudayaan lebih mudah untuk diidentifikasi dan diklasifikasikan.
Kedua, penggunaan istilah-istilah atau tata bahasa dalam suatu masyarakat merupakan gambaran adanya struktur. Dalam istilah-istilah bahasa terdapat susunan yang mengandung arti bukan sekedar makna etimologis tetapi juga psikologis dan sosiologis. Dengan demikian kata-kata atau secara umum bahasa merupakan gambaran dari masyarakat penuturnya.
Ketiga, karena adanya kesamaan struktur maka untuk mengungkap fenomena budaya dapat dilakukan dengan model seperti yang terdapat dalam bahasa. Penggunaan istilah-istilah dalam bahasa bisa menjadi lambang budaya. Oleh karena itu Levi-Strauss menyarankan agar para ahli antropologi bekerja sama dengan para ahli linguistik dalam mempelajari fenomena-fenomena budaya.
Terakhir, meskipun Strukturalisme Levi-Strauss banyak mendapatkan kritik, khususnya para Ahli Antropologi. Teori ini telah berkembang dan menguasai pemikiran banyak ahli di bidang budaya terutama di Perancis. Bagaimanapun dengan lahirnya teori ini banyak perspektif baru yang sangat positif bagi perkembangan ilmu budaya. Bahkan teori ini sering disebut sebagai tren kedua dalam penelitian sastra strukturalis. (Fokkema, 1978).

b. Saran
Setelah memahami secara komprehensif mengenai Paradigma Strukturalisme Levi-Strauss, perlu kiranya para ahli bahasa dan budaya mencoba mengplikasikan paradigma ini terutama dalam kaitannya dengan persoalan bahasa dan budaya. Bahasa dan budaya memang tidak bisa dipisahkan. Karena selain saling mempengaruhi, pemahaman akan bahasa suatu kelompok masyarakat akan memudahkan para peneliti budaya memahami kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
Disamping itu, nampaknya penting juga menganalisis karya sastra menggunakan Paradigma Strukturalisme Levi-Struass. Karya sastra adalah produk masyarakat yang sangat kaya akan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan yang ada dalam masyarakat yang melatarinya. Oleh karena itu fenomena budaya yang ada dalam karya sastra juga dapat ditelah menggunakan paradigma ini. Dengan paradigma ini akan memudahkan kita para pemerhati budaya menganalisis data-data empiris yang terdapat di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, Shri, H., 2006, Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra, Kepel Press, Yogyakarta.
Daiches, David, 1981, Critical Approaches to Literature, Longman, New York.
Fokkema, D.W., 1998, Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century), Gramedia, Jakarta.
Kaplan, David, dkk., 1999, The Theory of Culture (Teori Budaya), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Lane, Allen, 1968, Structural Anthropology, The Penguin Press.
Noth, Winfried, 1995, Hand Book of Semiotics, Indiana university Press, Bloomington and Indianapolis.
Selden, Raman, 1985, A Reader Guide to Contemporary Literary Work, The Harvester Press Limited, Sussex.
Strauss, Levi, Claude, 1958, Anthropologie Structurale (Terj. Antropologi Struktural, 2007), Kreasi Wacana, Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar